Senin, 07 Maret 2016

Anak Berkebutuhan Khusus, Butuh Penanganan, Bukan Air Mata


Memiliki anak yang sehat, aktif, dan cerdas tentu menjadi dambaan semua orangtua. namun, tak semua harapan itu selalu terwujud. Tak sedikit orangtua dari Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang merasa mimpinya hancur. Menerima kenyataan menjadi kunci penanganan pertama anak berkebutuhan khusus.

Menurut psikolog Roslina Verauli M. Psi, dari perspektif klinis, anak berkebutuhan khusus biasanya disebut sebagai anak dengan tumbuh kembang yang abnormal. Disebut abnormal, lanjutnya, karena memiliki beberapa perbedaan dengan anak normal. Pertama, dalam tumbuh kembangnya anak mengalami distress. Kedua, kondisi ini membuat anak terganggu kemampuan berfungsi dalam sehari-hari, antara lain bermain, belajar, dan bersosialisasi. Ketiga, anak berisiko untuk memiliki gangguan atau masalah yang lebih berat.

“Kalau tiga hal ini ada pada anak, berarti dia abnormal,” ujar Verauli. Dengan kondisi anak seperti tersebut di atas, tak heran banyak orangtua yang syok dan sulit menerima kenyataan. Apalagi, ciri-ciri ABK sebagian sudah terlihat sejak awal lahir. “Anak orang lain sudah bisa senyum-senyum, dia belum bisa. Selanjutnya, anak seusianya sudah mulai bisa menalikan sepatu atau bicara, dia belum,” Verauli memberi contoh.

Menurutnya, bila anak biasa memiliki kurva normal rata-rata, ABK memiliki kurva normal di luar rata-rata. “Kalau dia kurvanya ekstrem kanan, tingkat kecerdasannya sangat tinggi, tapi jadi sering mengganggu orang lain atau teman-temannya yang sedang belajar di kelas, misalnya. Sedangkan kalau dia ekstrem kiri, tingkat kecerdasannya di bawah rata-rata,” jelas Verauli

Ia menambahkan, anak-anak berkebutuhan khusus biasanya juga disebut anak spesial. Sesuai namanya, maka kebutuhan, pola pengasuhan, dan pendidikannya juga spesial, karena kebutuhannya berbeda dari tumbuh kembang anak pada umumnya. “Nah, yang paling pertama harus dilakukan orangtua adalah menerima kondisi anak apa adanya lebih dulu. Kalau belum bisa menerima, lebih baik konseling lebih dulu ke pakar,” tuturnya.

Konseling Keluarga

Verauli mengatakan, wajar bila pada awalnya perasaan orangtua hancur saat mengetahui anaknya termasuk anak spesial. “Tapi perlu diingat, anak tidak butuh patah hati dan air mata kita. Yang dia butuhkan adalah penanganan. Jadi, terimalah kenyataan bahwa anak kita memang berbeda. Itu dulu yang penting. Lebih cepat kita bisa menerima, lebih cepat anak bisa ditangani dan kita lebih cepat tahu apa kebutuhannya. Lalu, ikuti urutan penanganannya,” tandas Verauli yang juga memiliki anak spesial.

Namun, lanjutnya, bukan hanya orangtua saja yang harus bisa menerima kondisi ABK. Anggota keluarga lainnya seperti kakak dan adiknya juga harus bisa menerima dan bersikap terbuka. Itu sebabnya, seluruh keluarga disarankan mengikuti konseling. Setelah bisa menerima apa adanya, barulah melangkah ke tahap selanjutnya yaitu belanja pakar sebanyak-banyaknya.

Setelah menemukan pakar yang dirasa cocok, anak bisa menjalani terapi-terapi sesuai anjuran pakar. Verauli menyarankan untuk mencari pakar yang sesuai dengan tumbuh kembang anak. Ia menambahkan, tak masalah bila orangtua terlambat mengetahui, yang penting segera menerima dan memberikan penanganan terbaik. Ini lebih baik daripada tidak memulai sama sekali.

Verauli mengingatkan, orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus juga harus banyak membaca hal-hal yang menyangkut kondisi anaknya. “Informasi di internet maupun media sosial juga banyak. Minimal, miliki satu media pengasuhan untuk dijadikan acuan,” tuturnya. Tentu saja, imbuh Verauli, perlu pula berguru pada dokter anak di rumah sakit yang akan memantau anak secara medis.

“Jangan ragu untuk mendatangi klinik tumbuh kembang, agar kita tetap bisa memantau kualitas tumbuh kembang anak. Misalnya, kualitas gerakannya bagus atau tidak, ceroboh atau tidak, kualitas bicaranya memadai atau tidak untuk anak seusianya, dan sebagainya. Untuk mendapatkan penanganan medis terbaik, datang ke dokter,” tegasnya. Biasanya, lanjut Verauli, ada dokter yang memang secara khusus menangani ABK dan memberikan pendekatan biomedik.

Ikuti Saran Pakar

Kedua, datang ke psikolog untuk penanganan serta evaluasi. Beberapa psikolog juga akan memberikan latihan-latihan perilaku. Ketiga, ke terapis. Ada beragam terapis, antara lain terapis okupasi, terapis sensori integrasi, terapis perilaku, dan terapis wicara. Jadi, penanganan anak harus komprehensif dan melibatkan para profesional.

Memang, tutur perempuan ramah ini, penanganan ABK membutuhkan biaya yang tidak murah karena selain biaya terapi dan sekolah, juga dibutuhkan biaya penanganan sehari-hari. Ia juga mengingatkan anak wajib berkunjung secara berkala ke dokter anak dan psikolog. Selain untuk mendapatkan penanganan, juga sekaligus evaluasi untuk jangka pendek dan panjang.

Soal lamanya terapi, tergantung gangguan yang dialami dan seberapa berat gangguan itu. “Bila gangguannya berat, PR memang ekstra. Ada yang sekali dalam enam bulan, tiga bulan sekali, dan lainnya. Ikuti saja. Makin dini penanganan dilakukan, makin cepat hasilnya terlihat,” tandasnya. Selain hal-hal di atas, orangtua ABK juga perlu mengikuti seminar tentang pengasuhan anak, minimal setahun sekali.

Satu lagi, imbuhnya, bergabunglah dengan komunitas orangtua yang juga memiliki anak dengan gangguan yang sama, agar tidak merasa sendirian menghadapinya. Diakuinya, ada orangtua yang tega meninggalkan keluarganya atau bercerai dengan pasangan karena tak bisa menerima kenyataan bahwa anaknya berkebutuhan khusus.

“Tidak apa-apa. Kalau dia pergi, berarti dia belum mampu menerima keadaan. Yang penting kita punya support system yang kuat dan banyak, yaitu orangtua, keluarga besar, teman, terutama teman-teman dengan anak yang sama. Yang jauh lebih penting adalah agama kita kuat. Kembalikan semuanya pada Tuhan, karena dari sanalah semua berasal,” terangnya.

Memilih Sekolah

Bisa jadi semua langkah ini melelahkan, baik fisik maupun psikis, belum lagi ditambah harus menghadapi perilaku anak itu sendiri. Bisa menerima dan memberikan penanganan sesuai kebutuhan anak agar kemampuannya bisa berkembang secara optimal dan mandiri, menurutnya, merupakan cara bersyukur atas anugerah Tuhan yang istimewa ini dalam keluarga. “Yang penting, harus ekstra sabar. Makanya, orangtua sebaiknya rajin ikut konseling dan ikut komunitas. Sebab, ada masa-masa di mana orangtua tidak sanggup menghadapi masalah ini.”

Bila kita sudah tahu apa terapi dan bagaimana penanganannya, barulah bicara soal pendidikan, apakah anak akan dimasukkan ke sekolah umum, khusus, atau inklusi (dengan guru bayangan). Dosen psikologi di Universitas Tarumanegara ini mengingatkan, orangtua juga harus bersiap akan risiko bullying yang sering terjadi pada ABK.

ABK, imbuhnya, memang rentan mengalami bullying lantaran terlihat berbeda dari anak lain, bisa secara fisik, perilaku, kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi sosial, atau kecerdasan intelektualnya. Itu sebabnya, bila ternyata anak mampu bersekolah di sekolah reguler, Verauli menyarankan untuk memilih sekolah reguler dengan proporsi perbandingan yang kecil antara jumlah guru dan siswa, sehingga anak selalu terpantau.

Misalnya, 1:20, artinya satu guru untuk 20 siswa. Kedua, orangtua juga harus memahami nilai-nilai yang ada dan dianut sekolah yang dituju. Carilah sekolah yang memiliki nilai-nilai yang baik dan menghargai perbedaan. Ini, menurut Verauli, bisa terlihat dari sikap siswanya, apakah siswa-siswanya bersikap sopan atau tidak. Bila memang yang dipilih adalah sekolah reguler, komunikasikan kondisi anak secara rutin dengan gurunya, minimal seminggu sekali, tergantung kebutuhan anak.

“Makin berat gangguan yang dialami, terutama untuk autisme, sebetulnya dia makin terhambat di sekolah reguler. Maka, makin seringlah berkomunikasi dengan guru,“ saran psikolog cantik ini. Nah, agar anak juga mengenal lingkungan sekitarnya dan lingkungan juga bisa menerima kehadirannya dengan baik, Verauli menyarankan agar anak sering diajak ke lingkar kehidupan sosial di sekitarnya.

Belajar Bersosialisasi

Anak-anak spesial, menurut Verauli, bukan tidak mungkin mampu bersosialisasi, walaupun mungkin secara lambat. Latih anak untuk sering bertemu orang dari berbagai lingkungan. “Dengan demikian, dia akan belajar bersosialisasi dan mengenal pola-pola lingkungan yang berbeda, dan orang lain akan belajar menerima dia apa adanya. Ini sekaligus untuk mengedukasi orang lain akan keberadaan ABK,” ujarnya.

Menurutnya, boleh-boleh saja anak dengan gangguan diajak bersosialisasi dengan anak yang sama sepertinya. “Tapi, jangan digabung dengan anak yang gangguannya lebih berat agar tidak meniru,” ujarnya. Verauli menambahkan, tidak semua anak penyandang autisma mengalami tantrum. Biasanya, mereka tantrum karena beberapa penyebab. Antara lain, kemampuan berkomunikasinya terbatas sehingga dia merasa tidak dipahami dan tidak paham dengan lingkungan yang membuat emosinya akhirnya meledak.

“Ada pula gangguan sensori yang membuat anak gagal memahami spasial dan dampak gerakan atau kekuatan tubuhnya ketika memukul. Mungkin maksudnya menyentuh seperti anak bayi, tapi karena dia tidak bisa mengendalikan gerakan sensor motornya sendiri, akhirnya jadi pukulan keras. Dia tidak tahu bahwa kalau dia bergerak seperti ini, hasilnya akan seperti ini,” jelasnya.

Ia menambahkan, anak dengan pengasuhan yang kasar, tidak hangat, dan melibatkan hukuman fisik, biasanya juga akan memukul. Atau, bisa juga lingkungan sekitar menyajikan aksi memukul sehingga anak meniru. Bila anak tantrum, lanjutnya, adalah keliru bila kita menanganinya dengan cara mengiming-iminginya dengan sesuatu. Lebih baik minta dia untuk menghentikan perbuatannya.

“Kita pandu dia untuk menenangkan dirinya dengan cara dipeluk dari belakang dan menggerakkan tubuhnya dengan cara rileks. Usap-usap tubuhnya sambil secara verbal membuat konfirmasi agar dia menghentikan aksinya dan mengarahkan dirinya untuk tenang. Bila sudah tenang, barulah bisa diajak berkomunikasi tentang apa yang dia inginkan, agar dia tidak marah-marah lagi. “Yang perlu diingat adalah ketika anak tantrum, dia merasa gagal dipahami, makanya dia frustrasi,” pungkas Verauli. 



Hasuna Daylailatu
http://tabloidnova.com/Kesehatan/Anak/Anak-Berkebutuhan-Khusus-Butuh-Penanganan-Bukan-Air-Mata

Minggu, 06 Maret 2016

Hari Pertama Dengan "Mereka"

Sekolah anak berkebutuhan khusus adalah tempat pertama yang mengajariku banyak hal tentang mereka, anak berkebutuhan khusus. Tempat pertamaku mencari pengalaman sekaligus sumber rejeki, yang mungkin besaran nominal rupiah yang aku dapat tidak seberapa bila dibanding dengan apa yang temana-temanku dapatkan bila bekerja di perkantoran. Rasa bimbang, antara "iya atau tidak" memaksaku untuk mengambil keputusan yang menurutku sulit. Bimbang karena nantinya penghasilan yang aku dapatkan tidak sebesar dengan apa yang aku inginkan. Dan sampai akhirnya aku memutuskan untuk menerima dan mencoba ikhlas. 

Hari pertama itu akhirnya datang juga, ya... aku bekerja di sekolah ABK sebagai asisten pengajar. Pengalaman pertamaku...!. Satu per satu mereka bertadangan dan menghampiriku. Dan saat itu juga rasa bimbangku terbayar ketika melihat mereka, dan aku ada ditengah-tengah mereka. Aku senang sekaligus bangga terhadap diriku sendiri bisa berdekatan dengan mereka. 

Diawal karirku, aku belum mengetahui banyak tentang mereka. Sampai suatu hari, aku ditegur oleh rekan kerjaku karena memberi mereka biskuit coklat sewaktu jam istirahat. Masih kurangnya pengalamanku dalam mengenal mereka, membuatku lebih banyak mendapat pelajaran. Aku baru mengetahui jika anak berkebutuhan khusus diharuskan untuk "diet". Ya... hal tersebut ternyata dapat mengurangi perilaku agresif pada mereka, dan diet tersebut dilakukan atas hasil pemeriksaan dari dokter yang bersangkutan. 

Tidak hanya itu, aku pun dikejutkan dengan perilaku dari mereka yang cenderung masih kurang terkontrol, agresif, menggigit, menarik, mendorong, ingin melarikan diri. woww... Terkejut... tapi aku tidak mungkin memberi jarak pada mereka. Karena mereka sendiri pun tidak mengetahui apa yang mereka lakukan. Sabar, ikhlas, dan berdoa agar aku dapat meluluhkan hati mereka bila didekatku, adalah cara yang selalu aku lalukan saat sedang bersama mereka. Karena bersama mereka kebanggaan tersendiri untukku.


Hal ini hanya merupakan pengalaman pribadi, dan bukan untuk dijadikan kesimpulan serta acuan.

Selasa, 23 Februari 2016

Tips Mempersiapkan Sekolah Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Dalam merawat anak memang sangat istimewa, tidak saja menjaga kesehatan anak akan tetapi bagaimana cara membentuk pribadi anak menjadi lebih baik. Selain membutuhkan kesabaran, anda juga dituntut untuk tekun dan pandai membimbing anak anda. Tantangan tersendiri bagi anda yang mempunyai anak berkebutuhan khusus. 

Hal ini jelas akan membedakan cara mempersiapkan masa depannya dengan anak lainnya.
Anak berkebutuhan khusus merupakan anak dengan karakteristik yang berbeda dengan anak lainnya, faktor yang membedakannya secara fisik dan psikis, yaitu ketidakmampuan mental, emosi yang dimiliki anak. 

Adapun yang termasuk dalam kategori anak berkebutuhan khusus antara lain tunarungu, tunanetra, tunadaksa, tunalaras, kesulitan dalam belajar, gangguan perilaku dan juga anak berbakat. Membimbing anak yang berkebutuhan khusus memerlukan kesabaran dan kerja sama antara orang tua, guru dan juga lingkungan sekitar. Perhatian dan kasih sayang ekstra pada saat membimbing anak berkebutuhan khusus sangat diperlukan, begitupula saat anda akan memutuskan untuk memilih sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, sebaiknya anda memperhatikan beberapa persiapan yang dapat anda lakukan.

Berikut adalah tips mempersiapkan sekolah bagi anak berkebutuhan khusus :

1.    Pertimbangkan jarak dan lokasi sekolah
Satu hal yang harus anda perhatikan dalam memilih sekolah untuk anak berkebutuhan khusus adalah mempertimbangkan jarak dan lokasi sekolah. Lokasi yang terlalu jauh dari rumah akan membuat anak anda merasakan kelelahan ketika akan mulai belajar sehingga pada beberapa anak yang berkebutuhan khusus, seperti autis akan mengalami kelelahan dan stres yang meningkatkan resiko tantrum dan gangguan perilaku pada anak.

2.    Kenali fasilatas sekolah
Sebagai orang tua sebaiknya cermat dalam memilih sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, termasuk fasilitas yang disediakan dalam sekolah untuk proses belajar mengajar. Satu hal lainnya adalah memenuhi gerak anak, hal ini penting dikarenakan aktivitas anak berkebutuhan khusus memerlukan ruangan yang bebas sesuai dengan karakter yang dibutuhkan anak. 

3.    Perhatikan program pembelajaran
Program pembelajaran salah satu hal penting dalam memenuhi tujuan anak berkebutuhan khusus memasuki jenjang sekolah, hal ini berhubungan dengan kemampuan belajar anak berkebutuhan khusus yang memiliki kecepatan berbeda dengan yang lainnya. Anda dapat menanyakan langsung pada pihak sekolah, apa yang menjadi salah satu keunggulan sekolah dalam memenuhi kebutuhan anak anda. 

4.    Team profesional akan membantu menangani anak anda
Pada dasarnya penanganan dan perkembangan anak yang memiliki kebutuhan khusus harus mempertimbangkan pula team profesional yang ahli di bidang masing-masing. Salah satunya adalah dokter anak, psikolog dan beberapa lainnya. Pihak sekolah sangat berperan dalam kerjasama dengan semua pihak termasuk orang tua dalam mendapatkan stimulasi dan pelayanan yang terintegrasi dan disesuaikan dengan kebutuhan anak.
Dengan demikian bagi anda yang memiliki anak berkebutuhan khusus sebaiknya memberikan perhatian. Perhatian dari orang tua akan membantu dalam mengurangi pengaruh buruk yang akan terjadi pada anak berkebutuhan khusus. Selain itu anda dapat melakukan beberapa cara untuk meringankan kondisi anak berkebutuhan khusus, salah satunya dengan terapi yang biasanya disediakan di sekolah sekolah khusus anak berkebutuhan khusus, diantaranya adalah dengan mengikuti program terapi perilaku, terapi okupasi, terapi intelegrasi sensory atau terapi wicara disesuaikan dengan kebutuhan anak anak. Berikan pula stimulasi pada anak anda agar mampu berkembang dengan baik menyesuaikan dengan lingkungannya.


Jumat, 19 Februari 2016

Awalku dengan "Mereka"

Diawal aku terjun ke dunia anak berkebutuhan khusus banyak tanda tanya di dalam pikiranku. Kenapa?, ada apa?, kok bisa?, diapakan?, harus bagaimana?, pertanyaan - pertanyaan itulah yang aku tanyakan pada diri sendiri bahkan tidak jarang aku bertanya pada para seniorku yang lebih awal mendalami karakteristik anak berkebutuhan khusus. Belum puas aku mendapatkan jawaban atas apa yang aku tanyakan, aku berusaha mencari tau dan mempelajari sendiri dunia "mereka". Tetapi ternyata... teori dan praktek yang aku jalani di lingkungan tempat aku bekerja sangatlah berbeda. 

Tidak percaya diri pun akhirnya muncul, dan sempat mematahkan semangatku untuk merangkul mereka. Terlebih lagi ketika mereka menolak dan berontak saat aku ingin mendekati. Dan hal itu membuatku merasa ditolak oleh mereka. Terus berusaha... berusaha... dan berusaha lagi mencari cara pendekatan yang mungkin lebih dapat diterima oleh mereka. Dan pada akhirnya penerimaan itu datang, aku tersadar bahwa cara untuk mendekati mereka tidaklah mudah, dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. 

Aku pun mulai dapat membuka diri untuk menerima masukan dan kritikan, walupun itu membuatku terkadang kembali meragukan kemampuanku untuk menangani mereka.  Namun aku tetap yakin suatu saat nanti aku dapat menjalani dengan penuh rasa percaya diri. Dan sampai saat ini, aku menjadi aku yang tetap yakin akan kemampuanku... karena keyakinanku dapat menyalurkan energi positif ke mereka... sehingga membuat mereka merasa nyaman denganku.... dan tentunya tetap dengan ijin allah SWT. 



Tulisan diatas merupakan pengalaman pribadi dan bukan merupakan sebuah kesimpulan

Rabu, 17 Februari 2016

Mengenali Anak Berkebutuhan Khusus


Anak berkebutuhan khusus (ABK), merupakan sebuah istilah yang diberikan pada anak-anak istimewa yang membutuhkan perhatian dan pengasuhan khusus dari orangtua dan lingkungan sekitarnya. Anak-anak yang termasuk dalam kategori berkebutuhan khusus, antar lain:

  • Anak dengan cacat fisik seperti tunawicara, tunarungu, tunanetra, dan tunagrahita.
  • Anak dengan kekhususan psikis seperti gifted, hiperaktif dan autis.
  • Anak dengan kelemahan mental seperti down syndrome dan kecerdasan di bawah rata-rata.

 

Kapan Bisa Mengetahui si Anak Termasuk Berkebutuhan Khusus?


Anak-anak berkebutuhan khusus biasanya akan tampak semenjak lahir, sewaktu bayi, dan maksimal saat usia balita. Beberapa tanda keterlambatan perkembangan baik fisik maupun psikis perlu semenjak dini dikonsultasikan kepada dokter, psikiater, atau psikolog. Penanganan yang dilakukan semenjak dini akan lebih memudahkan si anak beradaptasi dengan lingkungannya.

Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus


Menangani anak dengan kebutuhan khusus tentu saja berbeda dengan anak-anak pada umumnya. Mereka membutuhkan perhatian dan pemahaman ekstra dari orangtua. Kasih sayang memang perlu disejajarkan dengan anak-anak lain dalam satu keluarga agar tidak terjadi rasa iri pada saudara yang lain, namun orangtua perlu juga mengajak anak-anaknya yang lain untuk bersama-sama memahami saudaranya yang berkebutuhan khusus.


Berikut ini beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam mengasuh anak berkebutuhan khusus.

  • Memberikan lingkungan yang nyaman dan aman bagi anak.
  • Mengajak keluarga lainnya, termasuk saudara kandung si anak untuk dapat memahami mereka.
  • Membiasakan anak untuk mandiri, mengajarkan mereka untuk dapat menolong dirinya sendiri dalam keseharian.
  • Memberikan stimulasi sesuai kebutuhan anak.
  • Memenuhi nutrisi dan mengajarkan pola hidup sehat.

Pengasuhan di Sekolah.

  • Memberikan sekolah yang sesuai kebutuhan si anak.
  • Bekerja sama dengan guru dan pihak sekolah dalam hal stimulasi dan terapi perkembangan anak.
  • Memberikan semangat kepada anak dan memberi kepercayaan sehingga mereka bisa tumbuh sehat dan percaya diri.

Pengasuhan di Lingkungan Sekitar.

  • Mendampingi anak dalam berinteraksi dengan orang lain.
  • Menghindarkan anak dari lingkungan yang membuat mereka tidak nyaman, mengucilkan, atau mengolok-olok mereka.
  • Membangun rasa percaya diri anak dengan mengikutkannya dalam beberapa lomba yang dikuasainya.


sumber: www. BerandaSehat.Com

Selasa, 16 Februari 2016

aku dan "mereka"

Anak berkebutuhan khusus...??? bidang itulah yang saat ini aku jalani. Sudah hampir 8 tahun aku menjadi seorang terapis atau pengajar untuk anak berkebutuhan khusus. Sabar... sabar... dan sabar..., hanya kata itu yang selalu ada didiriku saat menangani mereka yang cenderung mempunyai pola pikir dan emosi yang mudah berubah. Ya... itulah salah satu tugas dan tanggung jawab diriku menjadi seorang terapis. Karena menjadi terapis tidaklah mudah, aku harus mengenali pola pikir dan emosi mereka, membuat mereka nyaman di dekatku, menyamakan persepsi dengan lingkungan keluarga dan mempertahankan perubahan positif yang telah terbentuk.


Sungguh senang hati ini bila mereka mengalami perubahan yang positif, walaupun perubahan tersebut hanya perlahan dan sedikit demi sedikit, atau mungkin orang lain pun tidak dapat melihat perubahan tersebut. Ya.. hanya aku yang dapat melihat dan merasakannya. Dan aku berusaha menjadi seorang yang obyektif terhadap laporan yang akan ku berikan ke pihak lain, walaupun mungkin ada yang kurang sependapat dengan apa yang aku ucapakan. Kuat... dan tetap semangat melakukan yang terbaik buat mereka adalah slogan yang kurasa tepat untuk menyemangati diri ini agar tetap pada pendirian awalku atas kritik dan mungkin penolakan dari pihak lain tentang laporan yang kurang sesuai dengan pendapatnya.

Namun dengan segala kekurangan mereka dan keluh kesahku, aku selalu berusaha untuk mencoba tersenyum dengan apa yang mereka lakukan. Berharap mereka merasa dapat diterima dan mempunyai pelindung. Karena buatku, dapat merangkul dan berjalan perdampingan dengan mereka  adalah suatu rasa kepuasan dalam diri ini, dan tidak semua orang dapat melakukannya. Semoga mereka dapat menjadi lebih... lebih... dan lebih baik lagi. Mereka..??? ya, mereka... Anak Berkebutuhan Khusus.  


Ini hanyalah sebagian dari pengalamanku, dan tidak menjadi sebuah kesimpulan umum.